MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Kamis, 19 Januari 2017

Enjoy Baraccung's Column: Istilah Underdog Lecceng ke Kuda Hitam

(Foto: Ilustrasi)

Smartcitymakassar.com --Makassar- Liga Inggris musim 2015-2016 tahun lalu, menempatkan Leicester City sebagai tim underdog atau kuda hitam sebagai tim yang tidak diunggulkan alias tena ni rekengngi. Ternyata, tim ini yang menjadi kampiun menggeser tim besar seperti Chelsea, Arsenal, Manchester United, atau Manchester City. Istilah underdog tidak hanya berlaku pada sepak bola, termasuk juga diberbagai cabang olah raga lainnya. Bahkan, sudah masuk wilayah politik hingga merambah di kehidupan sosial masyarakat.

Pada mulanya, underdog berasal dari ‘olahraga’ adu anjing. Pemenangnya tentu berada di atas, sedang yang kalah berada di bawah. Hal inilah diserap menjadi istilah ‘under the winner’ atau dibawah sang pemenang. Kemudian, mengalami perubahan menjadi ‘underdog’. Dalam adu anjing ini, bandar taruhan mengelompokkan ‘top dog’ atau anjing yang kemungkinan menang dan ‘underdog’ atau anjing yang kemungkinan kalah.

Istilah ‘underdog’ mulai dikenal pada tahun 1887 ketika penerbit buku asal Amerika Serikat, Merriam-Webster memperkenalkannya. Kemudian istilah ini dipakai masyarakat luas pada abad ke-19 dengan arti awalnya adalah ‘anjing yang kalah pada adu anjing’.

Tetapi, kenapa bisa lecceng, underdog diartikan dalam bahasa Indonesia sebagai kuda hitam? Ternyata kuda hitam dan underdog tidak ada hubungannya sama sekali. Bukan hubungan bisnis, apalagi saribattang! Keduanya punya sejarah masing-masing. Kalau sejarah underdog seperti dijelaskan di atas, maka sejarah kuda hitam seperti diceritakan di bawah ini.

Pada tahun 1946, Alec Ramsey bersama ayahnya sedang berlayar di lepas pantai Utara Afrika. Dalam perjalanan menuju Inggris, Ramsey melihat seekor kuda hitam di dek kapal. Saat malam tiba, kapal tallang dan tidak ada hubungannya dengan kapala’tallang istilah Makassar itu. Ramsey berusaha membebaskan kuda hitam, hingga mereka terlempar keluar. Kapal tenggelam sementara Ramsey bersama kuda hitam selamat dan terdampar di pulau. Di sana, Ramsey dan kuda hitam menjadi akrab dan bersahabat hingga tibalah pertolongan.

Di Amerika Serikat, Ramsey bertemu pelatih kuda bernama Henry Dailey. Pelatih kuda mengajarkan bagaimana cara menunggang kuda dengan baik. Kudanya kemudian diberi nama The Black Stallion. Akhirnya The Black Stallion mengikuti kejuaran pacuan kuda, dimana lawannya ada dua kuda yang tercepat dalam kejuaran itu yaitu, Cyclone dan Sun Rider. Sejak itulah nama The Black Stallion meleganda hingga istilah ini digunakan untuk menyebutkan mereka yang tidak diunggulkan namun menjadi juara, 'Salamakki Saribattangku'.* (Rahmat Mustafa)