MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Selasa, 03 Januari 2017

Pegawainya Tidur Teratur, Perusahaan Memberi Insentif

(Foto: Carol / Web Bariatriccookery)


Smartcitymakassar.com. --Makassar- Nick van Dam dan Els van der Helm dari Harvard Business Review menuliskan adanya hubungan yang dapat dibuktikan antara kepemimpinan yang efektif dan tidur yang cukup.

Penulis yang sama di atas menyebutkan dalam artikelnya di McKinsey Quarterly bahwa survey yang baru dilakukan oleh Harvard Medical School terhadap pimpinan senior mendapatkan hasil bahwa 96% dari mereka setidaknya pada tingkat tertentu mengalami masalah kelelahan (burnout). Sepertiga dari mereka berada pada kondisi ekstrim.

Studi dari Harvard Medical School tersebut beranggapan bahwa tekanan yang konstant terhadap budaya selalu siap 24/7 (24 jam, 7 hari) membuat individu meninggalkan kesempatan tidur untuk meraih kesuksesan. Namun, perilaku ini memberikan efek negatif terhadap kinerja di kantor.

National Institutes of Health di Amerika merekomendasikan orang dewasa untuk tidur selama 7-8 jam guna mencegah efek negatif dari kekurangan tidur. Institut tersebut beranggapan bahwa kekurangan tidur dapat munculnya resiko masalah kesehatan kronis. Kekurangan tidur juga berefek pada kegiatan seseorang dalam berpikir, bereaksi, bekerja serta belajar.

Aetna, sebuah perusahaan grup asuransi berbasis di Amerika, seperti ditulis oleh Rachel Hallett dari World Economic Forum, telah memperkenalkan program tidur “sleep scheme” guna mendorong para karyawan mereka tidur 7 jam setiap hari. Karyawan yang mengikuti program ini mendapatkan insentif, uang dalam bentuk ‘cash’.

Setiap karyawan di Aetna yang tidur 7 jam atau lebih untuk setiap 20 malam akan mendapatkan uang ‘cash’ sebesar USD 20. Untuk 12 bulan, totalnya USD 300. Program ini dimulai sejak 2014 lalu, melibatkan sekitar 12,000 karyawannya dari total 24,000 pada tahun lalu.

Pimpinan dan CEO Aetna, Mark Bertolini, mengatakan “hadir di tempat kerja dan membuat keputusan yang lebih baik memberikan sumbangan besar terhadap dasar dari usaha kami.”* (Thoha Pacong)

(Sumber: Rachel Hallett, World Economic ForumNick van Dam dan Els van der Helm, Harvard Business Review, Nick van Dam dan Els van der Helm, Artikel Februari 2016 McKinsey Quarterly)