MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Selasa, 11 April 2017

Prof Toba: Ilmu dan Amal Lewat Lebah



(Foto: Riad Mustafa / SmartCityMakassar.com online news®, 2017)


Smartcitymakassar.com. --Makassar- Dunia akademisi dan penelitian memang kerap mengundang decak kagum banyak kalangan. Bagaimana tidak, dari dunia inilah lahir begitu banyak ilmu dan amal bagi kemanusian. Berasal dari ‘ruang-ruang’ sunyi pemikiran serta kesenyapan ‘laboratorium’, harapan bagi kehidupan yang lebih baik dan cerah menggantung di sana.


Hal ini juga terjadi pada Prof. Dr. Mappatoba Sila, M.Sc., Guru Besar Universitas Hasanuddin (Unhas) Makassar yang karib disapa Prof. Toba ini memang demikian akrab dengan lika-liku dunia akademik dan penelitian.

Dunia serangga, terutama lebah menjadi medan pengabdiannya. Bahkan tidak tanggung-tanggung, lewat disiplin ilmu dan penemuannya dibidang lebah, sosok yang sangat low profile ini menjadi figur yang sangat dihormati dan disegani di dunia akademisi dan penelitian manca negara.

Malaysia adalah salah-satu negara yang telah demikian karib dengan sosok kelahiran Kabupaten Wajo, 31 Desember 1944 ini. Di negeri jiran tersebut, Prof. Toba bahkan kerap ‘dirayu’ untuk mau menetap, melakukan penelitian serta mengajar penuh dengan menjadi warga negara di sana. Namun tawaran itu senantiasa ditolak halus, walaupun kerap dibarengi dengan iming-iming yang menggiurkan dengan berbagai fasilitas semisal tunjangan gaji, rumah, kendaraan dan dana penelitian yang besar.

Jiwa nasionalisme memang mengalir deras dalam darah sosok pendidik diberbagai universitas di Indonesia maupun di Malaysia ini. Mewakafkan diri untuk kemanusiaan serta tetap memegang prinsip dan nilai-nilai religiusitas juga menjadi bagian dari karakternya.

Tidak mengherankan bila dalam setiap ‘napas’ ilmu dan penelitian yang dilakukan, Prof. Toba senantiasa merujuk pada kandungan hikmah terbesar dari firman Allah SWT.

“Dalam Al Qur’an surah An Nahl ayat 68-69, dari perut lebah menyembuhkan manusia. Kebesaran Allah SWT bagi orang yang berpikir. Hal itu sangat menantang akal kita untuk menemukan manfaatnya bagi kemaslahatan manusia”, tuturnya.

Perkenalan Prof. Toba dengan kajian lebah ini dimulai ketika berkenalan dengan Mister Yang, seorang ahli pengobatan lebah dari Cina. Mister Yang yang kemudian menjadi sahabatnya ini banyak bercerita tentang manfaat lebah bagi kesehatan manusia. Dari sinilah jiwa intelektualitas serta spirit kecendikiawan Prof. Toba tertantang.

“Mengapa dari seorang ilmuwan yang notabene non muslim mampu memiliki pengetahuan mendalam tentang manfaat lebah, padahal di dalam ajaran Islam, Rasulullah SAW telah dengan jelas menekankan kegunaan serangga ini. Hal itulah yang terus mengganggu pikiran saya dulu”, ucapnya tegas.

Sejak saat itu, Prof Toba larut dalam kajian dan penelitian serangga Lebah ini. Apalagi sejak dahulu dia memang mengkritisi kecenderungan sistem dan metode pengobatan dunia terlalu mengadopsi model konvensional (modern) dan terpasung dalam sumpah kedokteran. Dengan demikian metode pengobatan tersebut sangat ‘linier’ serta mengabaikan kemungkinan pengobatan alternatif lainnya.

Membuka pemahaman serta cakrawala para ahli kesehatan dan dunia kedokteran menjadi medan perjuangan yang paling menantang Prof. Toba dalam karir akademik dan penelitiannya. Syukurlah dukungan terus mengalir. Saat ini pihak Rumah Sakit Internasional Unhas, telah mengakomodir model pengobatan lewat lebah yang akrab disebut Apitherapy itu. Dukungan Prof. Idrus Paturusi, Prof. Dwia Aries Tina Pulubuhu menjadi gairah terbesar Prof. Toba untuk terus dijalur ini.

Ada peristiwa cukup menarik ketika ruangan yang disediakan pihak Rumah Sakit Internasional Unhas untuk Prof. Toba, ingin diambil alih oleh seorang dokter spesialis saraf. Keberadaan metode pengobatan Apitherapy yang diperkenalkan Prof. Toba dianggap ‘aneh’. Untunglah dukungan Prof. Veni datang pada saat yang tepat. Dialah yang ‘memasang badan’ mempertahankan keberadaan metode pengobatan yang diperkenalkan Prof.Toba.

Untuk metode pengobatan lewat lebah ini, Prof. Toba menamakannya Pengobatan Religius. Dia menggambarkan bahwa saat ini, dunia menganut dua sistem pengobatan, yakni pengobatan konvensional (modern) dan pengobatan tradisional Cina. Padahal di dunia Islam ada potensi besar yang belum tergarap dalam hal metode pengobatan.

Secara berkelakar Prof. Toba mengatakan bahwa dalam pengobatan modern maupun tradisional Cina, kita hanya mendapatkan kesehatan dunia semata. Namun dalam pengobatan religius, kita mendapat kesehatan dunia dan kesehatan surga.

Dari sanalah kemudian Prof. Toba meracik sebuah ramuan yang kemudian dinamakan Madu Paliasa’. Lewat perut lebah biokimia Paliasa’ ditemukan. Biokimia ini berasal dari satu senyawa yang belum diketahui dari mana asalnya. “Ini merupakan mujizat”, ucap Prof. Toba. Karena dari senyawa biokimia ini memiliki kandungan yang demikian besar untuk kesehatan manusia.

Kegigihan, ketekunan serta sikap pantang menyerah dari Prof. Toba memang sangat menginspirasi. Sebuah sikap yang mumpuni dari seorang guru besar yang tak tinggal di ‘menara gading’, namun terjun langsung dalam rimba persoalaan kemanusiaan, terutama di bidang kesehatan. Ilmu dan Amal menjadi menyatu dalam dirinya. Seorang guru besar dalam arti yang sebenarnya.* (M. Yushar M)