MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Sabtu, 08 April 2017

Wali Kota Makassar Menjamu Delegasi IAI



(Foto: Bagian Humas Pemerintah Kota Makassar, 2017)


Smartcitymakassar.com. --Makassar- Wali Kota Makassar Mohammad Ramdhan 'Danny' Pomanto menjamu delegasi Ikatan Arsitek Indonesia (IAI) dari berbagai daerah di Indonesia. Jamuan berlangsung di kediaman pribadi Wali Kota, Jalan Amirullah, Jumat, (07/04/2017).


Beragam kuliner khas Makassar disajikan menyambut tetamu yang tidak hanya berasal dari dalam negeri juga ada yang berasal dari Seoul, Korea Selatan. Coto Makassar dan ketupat pandan, Sop Sodara dan nasi putih, serta Mie Kering dihidangkan di atas empat meja panjang berbungkus kain putih.

Sebagai hidangan penutup, disajikan kue tradisional Makassar semisal Barongko, Biji Nangka, dan Putu Pesse. Delegasi IAI juga dihibur dengan pertunjukan tari tradisional empat etnis, dan Pepe ri Makka.

"Kami bangga pada Pak Danny. Bukan hanya jago mendesain juga berhasil memimpin Makassar," kata Ketua Umum IAI Ahmad Djuhara.

Pujian itu, lantas dibalas Wali Kota Danny saat menyampaikan sambutan selamat datang. Menurutnya, Ahmad Djuhara adalah sosok yang telah mempersatukan arsitek seluruh nusantara. Ia berharap ke depannya, arsitek dapat lebih berperan.

Arsitek, kata Danny adalah orang yang bisa mentransformasikan hal-hal yang imajiner menjadi real atau nyata. Di Makassar, tantangan terbesar yang dihadapi adalah menata lorong-lorong Makassar yang jumlahnya ribuan.

Program Longgar (Lorong Garden) yang digagas Wali Kota Danny di awal kepemimpinannya membuahkan hasil 70% lorong-lorong di Makassar telah tertata apik. Ia mencontohkan lorong yang berada di Kecamatan Rappocini dan Mamajang.

Hal yang paling menggembirakan lanjut Danny, program Longgar sukses mendorong partisipasi warga di lorong-lorong. Bahkan ada di antara mereka yang membentuk arisan lorong. Hasilnya digunakan membeli cat, kuas dan perlengkapan lainnya untuk memperindah lorong.

Program Longgar tidak hanya berhasil mengubah wajah lorong Makassar lebih sehat juga berhasil mengubah karakter warga Makassar yang tadinya cenderung individualistis sesuai ciri masyarakat perkotaan menjadi lebih kekeluargaan.* (Iskandar Burhan)