MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Sabtu, 15 Juli 2017

Harga Beras Indonesia Tidak Mahal

Foto: Ilustrasi 

smartcitymakassar.com - Jakarta - Produksi padi tahun 2016 sebesar 79,4 juta ton gabah kering giling. Produksi padi ini naik 8,3 juta ton atau 11,7 persen dibandingkan tahun 2014.  Petani padi akan menikmati marjin apabila harga yang diterima memadai.  Bahwa harga beras Indonesia dibanding negara lain tidaklah termahal, ungkap Hari Priyono, Sekretaris Jenderal, Kementerian Pertanian.

Hari mengatakan “rerata harga beras di konsumen bulan Januari 2017 adalah Rp 10.698 perkilogram lebih rendah -0,98 persen dibandingkan Januari 2016, selanjutnya berturut turut Februari 2017 lebih rendah -1,76 persen, Maret -2,39 persen, April -1,37 persen dan Mei lebih rendah -0,09 persen dibandingkan bulan sama tahun 2016”.

Lebih  lanjut Hari mengatakan “Pada 2017 ini harga gabah maupun harga beras berada di atas Harga Pembelian Pemerintah (HPP) yaitu Rp 3.700 per kilogram gabah kering panen dan Rp 7.300 per kilogram beras. Rerata harga beras Juni 2017 sebesar Rp 10.597 perkilogram.  Sejak Januari hingga Juni 2017 harga beras terkendali dan petani masih dapat menikmati marjin yaitu Rp 65,7 triliun setahun”.

Data pada Pasar Induk Beras Cipinang (PIBC) terlihat harga beras medium di pada Minggu-I Juli 2017 yaitu IR 64-3 Rp 8.200 per kilogram, IR64-2 Rp 9.000 per kilogram dan IR64-1 Rp 10.000 per kilogram dan stock beras PIBC saat ini tersedia cukup banyak yakni 39.758 ton.

Hari mengatakan “’harga beras di Indonesia dibentuk oleh berbagai faktor seperti sistem produksi, logistik, distribusi, tata niaga serta kondisi geografis negara kepulauan di Indonesia”.  Berbagai upaya telah dan akan dilakukan guna meningkatkan kualitas dan daya saing beras Indonesia.  Membangun infrastruktur irigasi 3 juta hektar, embung 30 ribu unit, mekanisasi dengan alat mesin pertanian 80 ribu unit pertahun, efisiensi produksi, memperpendek rantai pasok dan tata niaga beras.  Hasil yang diharapkan adalah produk Indonesia akan berdaya saing dan harga kompetitif, ungkap Hari.

Harga beras beberapa negara menunjukkan lebih mahal dari harga beras rerata nasional Indonesia.  Data bersumber dari Bloomberg dan World Bank 24/6/2013 harga beras di Jepang Rp 48.779/kg, Korea Selatan Rp 35.833/kg, Singapura Rp27.501/kg, Taiwan Rp 22.482/kg, Amerika Serikat Rp 22.081/kg, Turki Rp 18.181/kg, China Rp 11.441/kg, Thailand Rp 11.241/kg, Malaysia Rp 11.241/kg, Philipina Rp 9.133/kg, Vietnam Rp 7.126/kg.

Data sumber newsletter blog API, harga beras pada 126 negara, termahal terjadi di Negara Bermuda USD 5,70/kg dan termurah di Egypt USD 0,54/kg.  Untuk diketahui bahwa harga beras Indonesia pada Maret 2017 sebesar USD 0,79/kg yang berarti berada pada urutan ke 116 negara.  Sebagai pembanding data Bloomberg tanggal 11 Juni 2017 disebutkan harga beras rerata internasional Rp 11.830/kg setara USD 0,89/kg (kurs Rp 13.290/USD), ungkap Hari.

Selanjutnya Hari menyampaikan bahwa “ini menunjukkan tidak benar bila disebutkan harga beras Indonesia termahal di Dunia”.


Bukankah pencapaian swasembada pangan itu ditujukan untuk ketahanan pangan dan sekaligus untuk mensejahterakan petani?.  Kenapa dalam pikiran para Pengamat  bahwa petani selalu diposisikan untuk dimarjinalkan.  Padahal untuk dipahami sesuai amanat Undang Undang Dasar 1945 bahwa Pemerintah hadir untuk meningkatkan kesejahteraan rakyatnya, pungkas Hari. (Fatahillah Mansur)