MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Minggu, 30 Juli 2017

In Cerita Para Pengusaha Beras yang Tak Cari Untung Besar

Foto: Ilustrasi  
smartcitymakassar.com - Kerawang - Meski usaha yang dibangun masih dalam skala relatif kecil dibanding PT Indo Beras Unggul (IBU), ternyata masih banyak pelaku penggilingan padi yang menjual dagangannya sesuai harga normal.
Salah satu contonya adalah pemilik PT Dinar Mas, Ery Muhtarsyid. Walaupun bisnis penggilingan padinya tergolong kecil, namun dia tetap menjual beras premium kepada konsumen ​​dengan harga wajar.
"Saya jual beras premium kisaran Rp8.600/kg sampai Rp9.000/kg," ungkap Ery yang bisnisnya berpusat di Karawang, Jawa Barat, Jumat (28/7/2017).
Senada dengan Ery, hal ini juga diungkapkan Ermaya, pemilik CV Panorama dan PT Bumi Banda Reksa yang tersebar di beberapa daerah di Jawa Barat dan Jawa Tengah.
Pemilik penggilingan padi kecil itu menerangkan, "Jual beras dengan harga Rp9.000-Rp9.200/kg untuk medium. Kalau premium Rp11.200/kg."
Kendati beras yang dijual ke publik harga normal, namun keduanya berani membeli gabah petani dengan nilai di atas ketetapan pemerintah.
Ery contohnya. Dia membeli gabah petani seharga Rp4.800-Rp4.900/kg. Erma malah lebih mahal, yakni kisaran Rp4.400-Rp5.400/kg.
Menurut keduanya, ongkos produksi lain yang dikeluarkan adalah biaya processing dan angkutan rata-rata Rp100-Rp 200/kg.
Dengan demikian, disparitias harga antara beli di petani dan jual pada konsumen tidak terlampau besar. Bahkan, berani untung kecil dibanding perusahaan penggilingan padi berskala besar, seperti PT Indo Beras Unggul, produsen beras kemasan merek Cap Ayam Jago dan Maknyuss.
Diketahui PT IBU, anak perusahaan PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food, membeli gabah petani seharga Rp4.900/kg. Namun, setelah diolah menjadi beras premium, margin keuntungan yang diperolehnya menembus 300 persen.
Soalnya, PT IBU menjual produknya hingga Rp26.630/kg untuk Cap Ayam Jago Gold S di salah satu pusat perbelanjaan modern di ibu kota.
Terpisah, Anggota Komisi IV DPR RI Firman Subagyo mengungkapkan, bermain di sektor pangan memang sangat menggiurkan. Sebab, tanpa perlu kerja keras dan cuma main kertas, bisa mendapatkan untung besar.
"Coba dia kalau membeli gabah kering Rp4.900/kg, tapi dia bisa menjual beras sampai Rp13.000/kg, bahkan Rp20.000/kg beras premium. Yang diuntungkan siapa?" tanyanya melalui sambungan telepon.
Padahal, Firman mengingatkan, para pengusaha nakal tersebut tidak pernah membantu petani, baik dalam memenuhi kebutuhan bercocok tanam hingga penyediaan sarana prasarana infrastruktur. Justru, semuanya dibiayai negara melalui subsidi dan bantuan.(Fatahillah Mansur)