MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Minggu, 30 Juli 2017

MAI Nilai Perusahaan yang Peroleh Untung Besar dari Jualan Beras Tak Bermoral

Foto: Ilustrasi  

smartcitymakassar.com - Jakarta - Anggota Masyarakat Agribisnis dan Agroindustri Indonesia (MAI), Sidi Asmono, memberi catatan kritis tentang cara berbisnis PT Indo Beras Unggul (IBU), yang beberapa waktu lalu gudang berasnya digerebek Satuan Tugas (Satgas) Pangan.

Menurut Sidi cara berbisnis dengan meraup untung tidak wajar adalah tidak bermoral. Apalagi, beras merupakan barang pokok dan strategis yang menguasai hajat hidup orang banyak.

Sidi mengatakan perusahaan sekelas PT IBU yang merupakan anak usaha PT Tiga Pilar Sejahtera (TPS) Food, mampu menekan biaya produksi, karena memilik teknologi modern.

"Teknologi canggih mampu memproduksi jauh lebih banyak, lebih berkualitas, dan biaya dapat ditekan. Sehingga, lebih efisien dibandingkan yang lain," ujarnya di Jakarta, Sabtu (29/7/2017)

Dengan demikian, kata Sidi, sepantasnya beras kemasan bermerek Cap Ayam Jago dan Maknyuss yang dijualnya ke konsumen dapat terjangkau, bukan malah meraup margin keuntungan yang cukup signifikan.

Apalagi, berdasarkan informasi yang diperoleh Sidi, PT IBU membutuhkan biaya produksi 10 persen atau sekira Rp2.000/kg dengan asumsi beras kemasan yang dijual di pusat perbelanjaan modern sekitar Rp20 ribu/kg.

"Apakah ini efisien dan masuk akal untuk memproduksi beras diperlukan biaya sebanyak itu?" tanya dia.

Dia menyatakan demikian, karena ketika biaya produksi 10 persen tersebut dihitung dari input harga jual beras petani Rp7.300/kg, maka cuma mengeluarkan Rp730/kg.
"Bila dijual Rp20 ribu/kg, apakah harga jual ini wajar?" tanyanya.

Dia juga menerangkan, meski PT IBU menjual beras hasil opolosan atau racikan sebelum diproduksi karena telah tercampur pascapanen, namun tidak membuat ongkos produksi bertambah.

Soalnya, proses pencampuran berasnya dengan posisi ketersedian beras yang tidak sama. Terlebih, disparitas harga gabah antarjenis padi yang menjadi bahan racikan hanya Rp500-Rp1.000/kg gabah kering panen (GKP) dan cara meraciknya cukup sederhana.

Dengan demikian, kata Sidi, perusahaan masih mendapat untung moderat ketika beras racikan dijual pada kisaran harga Rp10 ribu-Rp11 ribu.


"Mahal bila dijual sampai Rp20 ribu-an. Mengapa ada perusahaan menjual beras premium racikan dengan harga tinggi? Itulah improvisasi tata niaga," tandasnya.*(Fatahillah Mansur)