MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Minggu, 15 Oktober 2017

Pilgub Sulsel 2018: Nurdin Abdullah Raih Survei Tinggi dari Laboratorium Psikologi Politik UI

Foto: Istimewa    

smartcitymakassar.com - Makassar - Laboratorium Psikologi Politik Universitas Indonesia merilis survei opinion leader "Mencari Kandidat Gubernur Terbaik Sulsel 2018" di Hotel Aryaduta Makassar, Jl Penghibur, Makassar, Sulsel, Minggu (15/10/2017).

Hadir dalam rilis survei ini yakni Pimpinan Laboratorium Psikologi Politik UI, Prof Hamdi Muluk, Alwy Rahman (budayawan), dan Dr Firdaus Muhammad (Dosen UIN Alauddin Makassar).

Survei ini menilai dua dimensi pemimpin politik, yakni kapabilitas dan karakter personal.
Dari rilis ini, Nurdin Abdullah (NA) memimpin segi kapabilitas sebagai pemimpin maupun karakter personal.

"Dari seluruh aspek, hasil survei ini menunjukkan NA secara konsisten memimpin semua calon yang lain," kata Prof Hamdi Muluk.

Sementara itu, Alwy Rahman menganggap NA mendapay survei tertinggi karena sering muncul di media.

"Kenapa NA tinggi? Mungkin update di media tapi ini tidak comparable (sebanding) karena tugas pemerintahan Agus Arifin Nu'mang (wakil gubernur Sulsel) dan NA (bupati Bantaeng) berbeda. Satu wakil gubernur dan satu bupati," ujarnya.

Sementara itu, Firdaus Muhammad mempertanyakan survei ini apakah menjadi rujukan dari masyarakat Sulsel?

"Sejauh mana survei ini menjadi rujukan dari masyarakat Sulsel. Apakah partai politik ingin menjadikan ini sebagai guide (panduan). Apakah survei ini berbanding lurus dengan keinginan masyarakat dan partai politik?," katanya.

Ia mengatakan meskipun NA paling tinggi namun variabel Pilgub itu bisa sangat banyak.
"Sama seperti di Takalar, peta politik itu bisa sangat bisa berubah," katanya.

Para respon ini berasal dari 196 pakar yakni 14,3 persen berlatar belakang Professor dan doktor, 10,7 persen profesional, 9,7 persen pengamat politik, 9,2 persen konsultan politik, 8,7 persen dari tokoh masyarakat, 8,7 pers dari pers, 8,2 persen dari partai politik, 8,2 persen dari pebisnis, 8,2 persen dari LSM, 7,1 persen dari tokoh muda, dan 7,1 persen dari pakar manajemen tata kota 7,1 persen. (Fatahillah Mansur)