MENUJU PILKADA SERENTAK 2018

Kamis, 22 Februari 2018

Tokoh Masyarakat TPI Paotere: Insya Allah, 90% Kami Sepakat DIAmi



(Foto: Istimewa)

Smartcitymakassar.com. --Makassar- Calon Wali Kota Makassar, Mohammad Ramdhan "Danny" Pomanto mendapat sambutan antusias dari nelayan dan para penjual ikan saat blusukan di Tempat Pelelangan Ikan (TPI) Paotere, Kelurahan Gusung, Kecamatan Ujung Tanah, Kamis (22/02/2018) pagi.


Gemuruh suara "Dua", "Dua", dan "Oppoki" sambut kedatangan Danny Pomanto, sapaan akrab sang petahana, di tengah-tengah kerumunan masyarakat di TPI Paotere.

Diperkirakan 90% nelayan dan masyarakat anak lelong mendukung Danny Pomanto bersama pasangannya Indira Mulyasari Paramastuti (DIAmi) di Pilwalkot Makassar 2018.

"Saya persentasekan mudah-mudahan Allah SWT menghendaki, 90% kami sepakat DIAMI menjadi wali kota oppo'," kata tokoh masyarakat setempat, H Muh Arsyad.

Untuk itu, dia berpesan kepada jagoannya untuk menampung dan merealisasikan aspirasi masyarakat setempat jika Danny Pomanto terpilih untuk kali keduanya memimpin kota Makassar.

Apalagi, kata Arsyad, Danny Pomanto telah sepakat untuk memperpanjang waktu aktivitas TPI Paotere hingga malam hari. Dalam hal ini, permintaan para nelayan dan masyarakat anak lelong agar TPI Paotere dijadikan kawasan kuliner.

"Harapan warga untuk memperpanjang waktu untuk mencari nafkah itu dengan permintaan kawasan kuliner. Nelayan sendiri, harapannya tentu dengan adanya fasilitas yang semakin bagus di sini nilai beli dari apa yang didapatkan akan semakin bagus, artinya stagnan dia punya harga," harap Arsyad mewakili masyarakat setempat.

Disamping itu, fasilitas sarana dan prasarana air bersih juga menjadi harapan masyarakat kepulauan. Arsyad menyebutkan, Danny akan lebih intens memperhatikan nelayan terutama dalam penyediaan air bersih. Hal ini, lanjutnya, merupakan program Danny.

"Terakhir saya tambahkan, tidak ada namanya imigrasi ke pelelangan lain, kalau perlu nyawa taruhannya. Tidak ada yang bisa pindah di TPI Paotere ini, dipindahkan di mana saja. Itu harga mati," tutup Arsyad.* (Iskandar Burhan)